Ini Dia Profil Singkat Duta Besar Indonesia di Negara-Negara ASEAN

(1) Mayerfas, Dubes RI untuk Vietnam (21 Desember 2011-sekarang)
Mayerfas lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada tanggal 10 May 1960. Menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran. Diplomat ini memiliki seorang istri dan dua orang anak. Sebelum menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Vietnam, ia menjabat sebagai Wakil Duta Besar RI untuk China. Pengalaman kerjanya antara lain Kepala Seksi Kerjasama Keuangan Amerika Serikat dan Asia Pasifik II, Direktorat Investasi dan Keuangan; Staf Ekonomi di Kedutaan Besar RI di Ottawa; Deputi Direktur ESCAP, Direktorat Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa; Sekretaris Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN; dan lain-lain.
 
(2) H.E. Mr. Lutfi Rauf, Duta Besar Republik Indonesia untuk kerajaan Thailand)
H.E. Lutfi Rauf lahir di Wattan Soppeng, Sulawesi Selatan, 19 September 1961. Menikah dengan Tenridolong Syam dan dikaruniai 2 orang anak yaitu Chaida Dasha Purti dan Fathul Rachman. Ayahnya bekerja sebagai guru dan memiliki sebidang tanah yang dikerjakannya setelah mengajar. Sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga. Lutfi Rauf memiliki 7 saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan yang meninggal saat masih kecil. Diplomat lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin ini melanjutkan S2 di Departemen Ilmu Politik Victoria University, Wellington, New Zealand. Pada tahun 1986, Lutfi bergabung di Kementerian Luar Negeri. Tugas-tugas yang pernah diembannya antara lain Desk Officer on Indochina Affairs, Kementerian Luar Negeri; Desk Officer of Pacific Affairs, Kementerian Luar Negeri; Assistant Director for North Asia Affairs, Kementerian Luar Negeri; Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of the Republic of Indonesia to the Slovak Republic; dan lain-lain. Hobinya untuk mengisi waktu luangnya adalah memasak dan berolah raga, seperti berjalan, berlari, sepak bola, dan menembak.
 
(3) Kria Fahmi Pasaribu, Dubes RI untuk Laos (21 Januari 2010-sekarang)
H.E. Kria Fahmi Pasaribu is the new appointed Ambassador of the Republic of Indonesia to Lao People’s Democratic Republic (Lao PDR). He was born in Sorkam, Indonesia, in 1951. He is married to Mrs. Hastuty Firmasari and blessed with three children. Ambassador Kria Fahmi Pasaribu was graduated from School of Law, Padjajaran University in Bandung. Before joined the Ministry of Foreign Affairs he worked as staff at the National Institute of Aeronautics and Space in Jakarta. In 1980 he joined the Ministry of Foreign Affairs as junior staff in Directorate of Legal and Treaties Affairs, and then appointed as Head of Section of the Law of the Sea and Ocean Affairs. In 1988 Ambassador Kria Fahmi Pasaribu was in charged as Head of Section of the Environmental Law in the Directorate of Legal and Treaties Affairs, at the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. In 2004 – 2005 The Ambassador was assigned as Deputy Director for Territorial Affairs in Directorate of Legal and Treaties Affairs at the Ministry of Foreign Affairs of Indonesia. In 2004 – 2005 he was appointed as Director for Legal and Treaties on Economic, Social and Cultural Affairs, and then in 2006-2007 served as Director for Legal Affairs at the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia.
Ambassador working experience abroad started in 1984 when he was assigned to the Indonesian Permanent Mission to the United Nations, New York, as Attache and later promoted to third Secretary. In 1992 Ambassador Kria Fahmi Pasaribu was assigned to the Indonesian Embassy in Paris, France, served as Second Secretary and later promoted to First Secretary and Counsellor. At that time, he also in charge as the Deputy Permanent Delegate of Indonesia to UNESCO. In 1999 – 2003 he was the Chief of Political Division of the Indonesian Embassy in The Hague, the Netherlands as Counsellor that later promoted to Minister Counsellor. During his assignment in the Hague, he also served as Alternate/Deputy Representative of Indonesia to the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW). Before appointed as the Indonesian Ambassador to the Lao PDR, he was the Consul General of the Republic of Indonesia in Houston, Texas, USA with rank Minister.
Below are view details of the Conferences/Meetings and Other Activities, bilateral or international that Ambassador’s had attended: 1. Member o Indonesian Delegation to various sessions of the United Nations General Assembly in New York. 2. Member of Indonesian Delegation to the various meetings of the Preparatory Committee of International Sea Bed Authority and International Tribunal for the Law of the Sea in Kingston, Jamaica. 3. Member of Indonesian Delegation to various meetings between Indonesia and UNHCR concerning Indochinese Refugees. 4. Member of Indonesian Delegation to various meetings of the United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESSCO). 5. Member of Indonesian Delegation to the Summit of Nine Populous Countries on Education For ALL (EFA-9), Copenhagen, Denmark. 6. Member of Indonesian Delegations to various meetings between Indonesia and Australia on the Delimitation of Maritime Boundaries. 7. Member of Indonesian Delegation to various meetings between Indonesia and Malaysia concerning the Sovereignty over Sipadan and Ligitan Islands. 8. Member of Indonesian Delegation to various meetings between Indonesia and Vietnam Concerning the Delimitation of Continental Shelf between the two countries. 9. Member of Indonesian Delegation to the Eight Meeting of the States Parties to the United Nations Convention on the Law of the Sea, New York. 10. Member of Indonesian Delegation to various meetings of the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), The Hague. 11. Member of Indonesian Delegation to the Settlement of the Case between Indonesia and Malaysia Concerning Sovereignty over Sipadan and Ligitan islands in the International Court of Justice, The Hague. 12. Member of Indonesian Delegation to the Annual Ministerial Meeting between Indonesia and Australia, Canberra. 13. Member of Indonesian Delgationis to the Meeting between Indonesia and Malaysia on the Combating of Illegal Logging and Illegal Trade in Timber and Its Products. 14. Participant in various Seminars/Workshops on several issues.
 
(4) Andri Hadi, Dubes RI untuk Singapura (21 Desember 2011-sekarang)
TAK susah untuk menggambarkan sosok Pak Andri, begitu biasanya beliau dipanggil. Siapapun yang pernah menganalnya pasti sepakat untuk memberi penilaian yang sama sebagai pribadi yang “hangat dan dekat”. Bahkan beliau lebih dulu menyapa sebelum disapa dengan senyum khas yang menghias wajahnya. Itulah Pak Andri. Diplomat kelahiran Cirebon dengan nama lengkap Andri Hadi SH LLM ini memperoleh kepercayaan sebagai Duta Besar RI untuk Singapura, dan telah dilantik oleh Presiden RI pada tanggal 21 Desember 2011 di Istana Merdeka, Jakarta.
Alumni Hukum Internasional Universitas Padjadjaran ini sebelumya menjabat sebagai Direktur Jenderal Indormasi dan Diplomasi Publik, dan beliau dikenal sebagai pimpinan yang humble dan sangat dekat dengan seluruh staffnya. Suasana kekeluargaan yang sangat kental di lingkungan kerja Ditjen IDP adalah sebuah kenangan yang sangat indah bagi seluruh staff Ditjen IDP selama dinakhodai oleh alumni Sekdilu 1988 ini.
Diplomat yang meraih predikat sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional tahun 1984/1985 ini bergabung dengan Kemlu pada tahun 1986. Tugas-tugas yang pernah diembannya selama ini adalah sebagai Kepala Seksi Amerika Utara Direktorat Amerika, Sekretaris III Bagian Politik KBRI Washington DC, Kepala Sub Bagian Unit Administrasi Menteri, Kepala Seksi Humaniter Direktorat Organisasi Internasional, Kepala Bidang Pensosbud KBRI Ottawa, Direktur Diplomasi Publik, Wakil Duta Besar KBRI Washington DC, dan Direktur Jenderal IDP.
Dalam tugas barunya sebagai Duta Besar, diplomat yang meraih gelar LLM dari Universitas Monash, Australia, ini berjanji akan lebih mempererat dan memperkuat hubungan kerjasama Indonesia-Singapura yang telah terjalin sejak 7 September 1967 dengan melakukan berbagai langkah diplomasi.
“Singapura adalah negara sahabat dan salah satu negara tetangga terdekat yang memiliki arti penting bagi kepentingan nasional Indonesia. Secara fisik geografis, kedua negara mempunyai perbatasan langsung, sehingga mendorong terwujudnya hubungan dan kerjasama di berbagai bidang”, jelas Duta Besar Andri Hadi.
Lebih lanjut Duta Besar yang telah menerima anugerah Satyalancana Karya Satya pengabdian 10 tahun dan 20 tahun ini menambahkan, bahwa kedekatan letak geografis Indonesia-Singapura juga menimbulkan berbagai tantangan yang secara langsung dapat mempengaruhi kepentingan nasional Indonesia. Kedekatan geografis tersebut sering menimbulkan gesekan-gesekan akibat perbedaan kepentingan yang berpotensi menjadi ganjalan bahkan gangguan bagi hubungan bilateral kedua negara apabila tidak segera diatasi.
Duta Besar Andri Hadi menyatakan akan lebih memfokuskan bidang politik dan keamanan, ekonomi, sosial budaya serta perlindungan WNI/BHI semasa mengemban tugas di Singapura. Diantaranya dengan meningkatkan komunikasi dan hubungan baik, secara formal maupun informal, antara pejabat dan anggota parlemen kedua negara; melanjutkan dan memperkuat kerjasama hukum dan kepolisian; memajukan langkah-langkah untuk mendukung proses tindak lanjut pemberlakuan perjanjian ekstradisi dan perjanjian DCA (Defence Cooperation Agreement); serta mendorong percepatan proses penuntasan perundingan delimitasi batas maritim Indonesia-Singapura.
Di bidang ekonomi, Duta Besar Andri Hadi akan menjadikan bidang ekonomi sebagai salah satu fokus peningkatan kerjasama RI-Singapura, dimana sekarang ini Indonesia memiliki enam kawasan investasi baru yang tengah dikembangkan menjadi primadona investasi.
“Promosi enam kawasan investasi baru itu diperlukan, mengingat Singapura merupakan investor terbesar di Indonesia. Sehingga investasi yang dilakukan Singapura nantinya tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah namun juga tersebar di enam koridor ekonomi yang dikembangkan pemerintah” ungkapnya.
Duta Besar Andri Hadi juga akan meneruskan capaian-capaian yang telah dihasilkan pendahulunya, yaitu Duta Besar Wardhana, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menlu. Beliau menilai capaian yang diraih Duta Besar Wardhana sangat baik, tidak hanya dari segi internal pelayanan KBRI, tapi juga pelayanan kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan promosi ekonomi. Selamat bertugas di tempat yang baru, dan semoga sukses. (www.tabloiddiplomasi.org,Edisi januari 2012, Senin, 23 januari 2012, 15:30)
 
(5) Yohanes Kristiarto Soeryo Legowo, Dubes RI untuk Philippine
Drs. Yohanes Kristiarto Soeryo Legowo lahir di Magelang pada tanggal 27 Desember 1962. Legowo dalam Bahasa Jawa berarti kelegaan yang besar, karena anak terakhir dari 10 bersaudara ini sempat mengalami masalah dalam proses kelahirannya. Pada awalnya Ia bercita-cita menjadi pilot namun karena harus memakai kacamata, dia lalu memutuskan untuk menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada. Diplomat ini bergabung dengan Kemenlu pada tahun 1987. Dalam tugasnya ke negara Vatikan, dia bertemu dengan mahasiswa Indonesia di University of Sapienza bernama Caecilia. Mereka menikah di Indonesia pada tahun 1994 dan dikaruniai 3 orang anak, yaitu Diletta, Rosalba, dan Prabu.
 
(6) Herman Prayitno, Dubes RI untuk Malaysia
Marsekal TNI (Purn.) Herman Prayitno lahir di Yogyakarta, 9 Januari 1951 (62 tahun). Herman diangkat menjadi kepala staf TNI Angkatan Udara menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto dari tanggal 13 Februari 2006 sampai 28 Desember 2007. Herman Prayitno diterima menjadi Calon Prajurit Taruna tahun 1970 dan dilantik Presiden RI tahun 1973. Kemudian Herman mengikuti Pendidikan Sekbang dan dilantik tahun 1976, dan pada tanggal 24 Maret 2004 dilantik menjadi Wakil Kepala Staf TNI-AU (Wakasau). Herman dilantik menjadi Duta Besar Indonesia untuk Malaysia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 3 September 2012 bersama 15 duta besar lainnya. Herman Prayitno memiliki satu orang istri yang bernama Ratna Andarwaty dan dikaruniai 3 orang anak, yaitu Galih Brahmantyo, Marcela Savitri, dan Aurellia.
 
(7) Soehardjono Sastromihardjo, Dubes RI untuk Kamboja
Drs. Soehardjono Sastromihardjo, MA, lahir di Yogyakarta, 29 Juli 1955. Pernah sebagai Kepala Biro Administrasi Departemen dan Perwakilan, Sekretariat Jenderal Deplu, Direktur Informasi dan Media – Ditjen IDP.  Soehardjono Sastromihardjo  memiliki reputasi dan sisi positif serta terobosan dalam menciptakan perdamaian di Kamboja khususnya dengan Thailand. Soehardjono Sastromihardjo, termasuk seorang di antara sekian banyak personel sipil yang pernah ikut dalam misi Kontingen Garuda XII di Kamboja pada 1992-1993
 
(8) Sebastianus Sumarsono, Dubes RI untuk Myanmar
Pengangkatan Sebastianus Sumarsono sebagai Duta Besar LBBP RI untuk Myanmar berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 44 P tahun 2008. Sebelum mengambil sumpah, Presiden SBY bertanya kepada Dubes yang dilantik, bersediakah mereka mengangkat sumpah menurut agamanya. Kemudian Sebastianus Sumarsono menjawab bersedia dengan suara yang tegas. Lalu dia langsung mengikuti sumpah yang dibacakan oleh Presiden SBY. Usai pengucapan sumpah, Presiden SBY dan Sumarsono menandatangani berita acara pengangkatan sumpah, dilanjutkan dengan ucapan selamat dimulai dari Presiden SBY dan Ibu Negara diteruskan para menteri yang hadir, antara lain Menko Polhukam Widodo AS, Menkominfo M. Nuh, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dan Seskab Sudi Silalahi. Download riwayat pendidikan, pelatihan dan pengalamannya di http://kbriyangon.org/images/stories/pdf/curriculum_vitae.pdf
 
(9) Handriyo Kusuma Priyo, Dubes RI untuk Brunei Darussalam (3 Maret 2010-sekarang)
Pada tanggal 3 Maret 2010 jam 14.00 siang waktu setempat, bertempat di Istana Nurul Iman, Bandar Seri Begawan, Duta Besar Handriyo Kusumo Priyo telah menyerahkan surat-surat kepercayaan sebagai Duta Besar Republik Indonesia yang baru untuk Negara Brunei Darussalam kepada Sultan Haji Hassanal Bolkiah, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam. Setelah menyerahkan surat-surat kepercayaan, Dubes RI didampingi Minister-Counsellor Policy Planning, Counsellor Sosial Budaya dan Sekretaris Pertama Politik melakukan audiensi kepada Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Pada kesempatan itu, Dubes RI menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan atas sambutan dan penerimaan yang sangat baik yang diberikan oleh Pemerintah Brunei Darussalam, serta menyampaikan salam hangat dari Presiden RI kepada Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Dubes RI menyampaikan pula penghargaan Pemerintah RI atas kehadiran Sultan Brunei Darussalam pada dua kali Bali Democracy Forum (BDF) tahun 2008 dan 2009.
 
Alamat website KBRI Indonesia di seluruh Negara ASEAN, Buka dan pelajari sebelum berbicara dan membuat tulisan tentang ASEAN:
  1.  Myanmar: http://kbriyangon.org/,
  2. Malaysia: http://www.kbrikualalumpur.org/web/
  3. Singapura: http://www.kemlu.go.id/singapore/Pages/default.aspx
  4. Brunei Darussalam: http://www.deplu.go.id/bandarseribegawan/Pages/default.aspx?l=id
  5. Vietnam: http://www.kemlu.go.id/hanoi/Pages/default.aspx?l=id
  6. Kamboja: http://www.kemlu.go.id/phnompenh/Pages/default.aspx?l=id
  7. Philipina: http://www.kbrimanila.org.ph/
  8. Thailand: http://www.kemlu.go.id/bangkok/Pages/default.aspx
  9. Laos: http://www.kemlu.go.id/vientiane/Pages/default.aspx
Sumber: www.kemlu.go.id, aekudon.com, deplu.go.id, alumni-fhunpad.or.id, ipavoices.com, bussinessmirror.com, angkasa.co.id,wikipedia.com, gatra.com, pressby.info, thebigchilli.com, tabloiddiplomasi.org
 
Penyusun Profil Dubes RI untuk Negara-negara ASEAN: Hariqo Wibawa Satria dan Gina Namira