Tenaga Kerja Asing Masuk, Persaingan Konstruksi ASEAN Kian Ketat

Jakarta, KOMPAS (29/04/13) – Tanpa ada kesiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 nanti Indonesia akan menjadi sasaran pemasaran produk maupun tenaga kerja dari negeri tetangga. Tenaga terdidik asing masuk Indonesia.
 
 12 SEKTOR PRIORITAS DALAM MASYARAKAT EKONOMI ASEAN:
  1. Perikanan
  2. e-travel
  3. e-ASEAN
  4. Otomotif
  5. Logistik
  6. Industri berbasis kayu
  7. Industri berbasis karet
  8. Furnitur
  9. Makanan dan minuman
  10. Alas kaki
  11. Tekstil dan produk tekstil
  12. Kesehatan[1]
Pembangunan infrastruktur dalam Kawasan Ekonomi Kompetitif: (a)Jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi, (b)Interkonektifitas dan interoperasional teknis di antara sistem-sistem ICT, perjanjian dalam e-commerce, (c) Kerja sama energi dalam biofuel, dan interkoneksi jaringan listrik dan pipa gas (Jaringan listrik Trans ASEAN), (d) Perdagangan dan investasi geologi dan sektor mineral (tambang), (e) Menarik keterlibatan yang lebih besar sektor swasta.[2]
 
“Perawat, guru, arsitek, dan profesi lain bisa berdatangan ke Indonesia,” kata koordinator Kampanye Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga, di Jakarta, Minggu (28/4).
 
Labor Institute Indonesia menilai, pada posisi saat ini Indonesia belum siap menghadapi ASEAN Economic Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Menurut Andy, pemerintah perlu mengkaji ulang soal Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut atau setidaknya mencermati batasan-batasan mana yang mampu dilakukan Indonesia pada pasar tunggal ASEAN tersebut.
Selain tenaga kerja, pelaku industri jasa konstruksi Indonesia juga harus bersiap menghadapi kian ketatnya persaingan saat diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Peningkatan daya saing menjadi kunci penentu keberhasilan memenangi persaingan tersebut.
 
”Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 pasti akan memengaruhi dunia usaha konstruksi nasional,” kata Ketua Kompartemen Sumber Daya Manusia dan Kerja Sama Internasional Badan Pimpinan Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia Errika Ferdinata.
 
Hal ini, kata Errika, disebabkan pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut akan terbentuk pasar dan basis produksi tunggal yang menciptakan kebebasan arus barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja di negara-negara kawasan Asia Tenggara. Errika mengatakan, pada kondisi semacam itu pengusaha jasa konstruksi dalam negeri harus siap bersaing dengan ahli-ahli usaha sejenis dari negara-negara tetangga. “Kalau ditanya saat ini kita siap atau tidak siap, pasti bilangnya tidak siap. Kalau bisa mundur sih mundur. Namun pasar tunggal ASEAN ini tetap harus dijalani karena sudah diketok dan jadi keputusan bersama,” kata Errika.
 
Dua tahun persiapan
Sekitar dua tahun waktu yang tersisa harus dimanfaatkan bagi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia untuk menyiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.
 
Errika menuturkan, terkait hal tersebut maka Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi dan asosiasi akan membuat regulasi atau kebijakan mengenainya. “Perlu disusun kebijakan menghadapinya, terutama untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan daya saing perusahaan konstruksi dalam negeri agar kompetitif dengan negara lain di ASEAN,” katanya.
 
Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat beberapa waktu lalu memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi di dalam negeri menjelang berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN.
 
Tantangan dimaksud antara lain terkait pentingnya mengawasi barang impor dan perlindungan terhadap perdagangan tidak adil, termasuk penyelundupan serta aturan manipulatif. Tantangan berikutnya adalah perlunya segera dilakukan pembenahan soal infrastruktur dan biaya logistik.
 
Mengacu data Global Competitiveness Report 2012-2013, Indonesia berada di peringkat 50 dari 144 negara. Peringkat ini ada di bawah Singapura yang berada di posisi 2, Malaysia (25), Brunei (28), dan Thailand (38). Data indeks kinerja logistik berikut indikatornya dari Bank Dunia 2012 mencatat, peringkat Indonesia itu masih di bawah Singapura yang berada di posisi 1, Malaysia (29), Thailand (38), Filipina (52), dan Vietnam (53). (CAS)
 
Sumber dan Gambar: Koran Kompas Cetak (29 April 2013) hlm. 19
 

[1] Litbang “Kompas”/INO, yang disarikan dari situs asianfarmers.org
[2]Ibid